Soekarno Singa Podium, Tapi Terkadang Rapuh Seperti Hamlet

Sebagai pohon nyiur runtuh disambar geledek, demikian bunyi berita tersiar dalam surat kabar bahwa Ir. Soekarno mengambil keputusan dengan sesukanya sendiri untuk mengundurkan diri dari segala pergerakan. "… Satu tragedi Soekarno yang belum ada contohnya dalam riwayat dunia. Orang kata karena pengaruh istrinya. … Orang yang mempunyai karakter tidak akan terpengaruh oleh karena apa juga. Bukan pemimpin kalau masih terpengaruh oleh air mata istri yang tak tahan hidup melarat.” Bukan main terkejutnya Inggit membaca tulisan Bung Hatta di koran Daulat Ra’jat itu. Sekujur tubuhnya terasa terbakar. Dalam kata-kata Inggit sendiri: “Aku merasa seperti terinjak seluruh diriku.”



Hasil gambar untuk soekarno


Hatta melansir tulisannya persis ketika tersiar kabar Soekarno mengundurkan diri dari Partindo dan PPKI dengan alasan tidak cocok dengan asas dua organ pergerakan itu. Hatta, juga semua-mua aktivis pergerakan, tentu saja merasa masygul. Tetapi dalam hal diagnosanya atas peranan Inggit dalam pengunduran Soekarno, Hatta jelas kurang begitu mengerti duduk perkara.

Di luar perkiraan Hatta ketika itu, Inggit bukanlah perempuan yang menggerogoti karakter Soekarno. Justru Inggit-lah yang dengan caranya sendiri berhasil meneguhkan karakter Soekarno dan dalam momen-momen tertentu Inggit pula yang mengembalikan Soekarno ke jalurnya ketika godaan untuk ngelencer ke luar jalur sedang memikat Soekarno.

Juga berbeda dengan diagnosa Hatta, Inggit adalah istri yang menemani Soekarno di masa-masa tersulit sepanjang perjuangannya. Inggit-lah yang menemani dan mengurusi semua kebutuhan Soekarno ketika ia dipenjara di Sukamiskin di awal tahun 1930-an. Inggit pula (juga ibunya Inggit) yang rela menemani Soekarno ketika ia dibuang ke Ende, di Flores. Inggit juga tetap berada di samping Soekarno ketika ia dibuang ke Bengkulu. Bersama Inggit-lah masa-masa susah dilewati Soekarno.

Berbeda dengan tuduhan Hatta yang menuduhnya sebagai perempuan yang tak bisa diajak melarat, Inggit justru merelakan diri menjadi melarat dengan menguras tabungan yang dimilikinya untuk membantu Soekarno sebisanya. Ia jual perhiasan dan harta benda yang ia miliki untuk membiayai aktivitas Soekarno. Inggit yang membelikan buku buat Soekarno. Inggit yang putar otak untuk membeli kebutuhan makan, minum dan penganan tiap kali rumahnya dijadikan tempat rapat dan diskusi para aktivis pergerakan.

 
Inggit Garnasih
Inggit pula yang selalu menjadi penengah ketika terjadi perdebatan yang menjurus kasar di antara sesama aktivis itu dengan masuk ke ruangan rapat untuk menawarkan minum, makan dan penganan. Inggit pula yang menerjemahkan pertanyaan-pertanyaan masyarakat Sunda di Bandung tiap kali Soekarno mengadakan tanya jawab, diskusi atau kursus-kursus politik.

Soekarno mungkin seorang singa podium, tetapi ia tak ubahnya Hamlet yang rapuh dan selalu kesepian ketika sendiri dan jauh dari massa. Ia adalah seorang pemimpin besar revolusi yang dengan perkasanya mengobarkan perang terhadap kolonialisme dan imperialisme, tetapi sebetulnya ia adalah lelaki yang bahkan menyembelih seekor ayam pun tak sanggup. Soekarno adalah lelaki yang sangat membutuhkan atensi, perhatian. Kasih sayang. Soekarno sudah sering berkencan dengan noni-noni Belanda yang cantik, tapi ia butuh seorang perempuan yang bisa mengawaninya di segala keadaan, di saat-saat yang terpedih sekalipun.

 
 
Zen pejalanjauh