OPINI

Islam Gincu versus Islam Garam Bung Hatta

Islam Garam Bung Hatta dan Pancasila

Saat itu datang kelompok muda Muslim yang menganggap Bung Hatta semakin sekuler karena dianggap tidak ada ikhtiar serius untuk memformalisasikan ajaran Islam.

Read more ...
Profitisasi BUMN, Solusi Masa Depan Bangsa

Profitisasi BUMN, Solusi Masa Depan Bangsa

Program pembangunan yang sangat masif dijalankan oleh pemerintahan Jokowi-JK di seluruh pelosok negeri, menjadi catatan sejarah khusus bagi bangsa dan negara kita. Berikut ini perspektif Johan O Silalahi - Doctor of Law (JD) Field Of Study Banking, Corporate, Finance, and Securities Law. Komisaris Independen PT Bukit Asam Tbk

Read more ...
Ajal Agama di Tengah Kejayaan Sains

Ajal Agama di Tengah Kejayaan Sains

Dalam bukunya yang berjudul, “Ajal Agama di Tengah Kejayaan Sains,” Huston Smith, pakar perbandingan agama-agama paling terkemuka di dunia, punya hipotesa bahwa agama dan sains tidak akan saling membunuh, melainkan bekerjasama menyelamatkan masa depan bumi. Berangkat dari kegelisahannya akan krisis yang melanda kehidupan manusia, baik di Timur maupun Barat, terutama yang menimpa dunia spiritual modern. Kondisi tersebut menurut Smith dicirikan antara lain oleh rasa kehilangan pada yang Yang Transenden dalam cakrawala yang lebih luas. Dunia kehilangan dimensi manusiawinya, dan manusia kehilangan kendali atas dirinya. 

Read more ...
Eyel-Eyelan Tafsir Quran Campur Tafsir Youtube

Catatan Eyel-Eyelan Tafsir Quran Campur Tafsir Youtube Zaman Ahok

Warning: tulisan ini mungkin sekali berpotensi membuat Anda bosan dan jenuh. Jadi persiapkan diri Anda untuk… membenci Ahok. Atau membenci diri sendiri. “Tidak ada yang namanya fakta, yang ada hanya tafsiran-tafsiran saja.” kata Nietzche, berikut ini perspektif Ahmad Farid, seorang mahasiswa di Purwakarta, Jawa Barat.

Beberapa bulan yang lalu teman saya konsultasi soal proposal skripsinya yang berjudul: Kepemimpinan Non-Muslim Menurut Perspektif Al-Quran (Kajian Terhadap Pemikiran Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Quran). Sang dosen yang tadinya hangat menerima kami langsung berubah air mukanya begitu melihat judulnya saja. Kontras betul dengan ketika kami mengetuk pintu rumahnya, sambil menenteng martabak telor. Ini baru aja di judul loh. Proposal pulak. Horor betul.

“Tidak ada yang namanya perspektif al-Quran. Haram bilang begitu!” Ujarnya seolah menyempurnakan perubahan air mukanya tersebut. Kami kaget bukan main, bagaimana mungkin al-Quran yang merupakan satu-satunya pemandu utama jalan yang lurus itu tiba-tiba menjadi sesuatu yang diharamkan untuk diambil pesan-pesannya?

Ah, ini dosen bengkok aqidah-nya. Jangan-jangan haram juga nih bimbingan sama beliau. Nah, sampai sini pasti ada aja yang bilang: ah perguruan tinggi Islam zaman sekarang, dosennya pada kafir, mahasiswanya pada kenthir. Udahlah ke padepokan Kanjeng Anu aja, biar ganda anunya.

Sebentar dulu ikhwani fillah. Biarkan dosen saya itu melanjutkan apa yang dia bicarakan.

“Judul, seharusnya tidak langsung seperti itu.” Katanya lagi, “buatlah judulmu lebih spesifik. Misalnya Kepemimpinan Non-Muslim dalam Al-Quran Menurut Perspektif Mufassir A, atau B, atau C.”

Lalu dia menjelaskan panjang lebar dasar-dasar mata kuliah Ilmu Tafsir; semisal bahwa al-Quran tidak pernah “bicara” sendiri. Dari mulai masa Nabi Saw, para Sahabat, tabi’in, sampai hari ini. Dari hasil-hasil tafsiran itulah perilaku keberislaman masing-masing kita terbentuk dan hadir dalam pikiran, tradisi, ibadah, dan tingkah laku. Entah yang berkaitan langsung atau bertolak belakang sama sekali. Qunut-gak qunut, tahlil-gak tahlil, berotak-gak berotak, semuanya adalah cara masing-masing individu, golongan, bahkan institusi tertentu dalam berinteraksi dengan kalam ilahi ini. kira-kira begitu terangnya secara tidak langsung.

Coba bayangkan hal sederhana ini: dari mana pengetahuan tentang makna kata adh-dhollin dan al-maghdub (ayat akhir Qs. Al-Fatihah) sebagai yahudi dan nashrani?

Dari mana kita memahami masa ‘iddah—masa suci atau penantian untuk dapat menikah kembali—seorang janda, yang dalam bentukan tekstualnya cuma disebut sebagai tsalatsata quru’?

Dari mana pula anda tahu bahwa ayat yang melarang khomr cuma pas waktu mau sholat doang itu sudah dinasakh-kan (dihapus bentukan hukumya) dengan ayat yang melarang khomr total?

Dari siapa pula Ahok seolah-olah ngeh kalau kata waliy dalam al-Maidah 51 itu bermakna Gubernur Jakarta?

Semua ini diwarisi dari hasil kerja-kerja tafsir para mufassir terhadap al-Quran. Dan kita semua sudah tahu bahwa para mufassir yang sholeh, hafal quran, khatam mantiq, ngerti hadits itu tidak jarang juga bersilang pendapat dalam menafsirkan ayat-ayat tertentu, terutama ayat yang akhir itu. Lah kita ini apa? Eyel-eyelan dengan modal video youtube?



Ahmad Farid
Baperis, Lagi Nykripsi, bergiat di Sanggar Sastra Purwakarta

More Articles ...